Posisi Menentukan Prestasi

Bukan, bukan ingin memaknai judul diatas dengan makna majazi yang maksudnya sindiran kepada penyontek yang mencari posisi terbaiknya dalam menyontek.

Tetapi tentang makna hakikinya bahwasanya kesempurnaan Islam mengatur bagaimana murid memposisikan diri di hadapan gurunya.

Adalah Yahya bin Yahya Al-Laitsi, seorang pemuda Andalusia yang bertekad memenuhi hasratnya menuntut ilmu di kota nabi. Bertapak-tapak ia jalani, meninggalkan megahnya Andalusia kepada tandusnya Madinah Al-Munawarah.

Dan sesampainya disana, majelis Imam Malik bin Anas menjadi perhelatan hatinya yg bergejolak selama ini.

Hingga suatu hari kekhusyuan majelis Imam Malik terpecah oleh kafilah musafir berkendaraan gajah yang memasuki Madinah.

Satu-persatu murid Imam Malik berhamburan keluar untuk menyaksikan fenomena langka tersebut, kecuali Yahya bin Yahya. Ia tetap berada pada posisinya dan menatap lekat ke arah sang ahli ilmu, tanpa menoleh sedikitpun kearah pertunjukan langka di luar majelis.

Hingga kemudian sang guru bertanya tentang sikap teguhnya di dalam majelis ilmu. Dengan mantap Yahya bin Yahya menjawab “Dari jauh aku datang hanya untuk melihatmu, bukan untuk melihat gajah”. Dengan kagum Imam Malik menjulukinya Aqilu Andalus (Seorang berakal dari Andalusia).

Ya Yahya bin Yahya, kami belajar darimu tentang bagaimana memposisikan diri di dalam majelis ilmu, dihadapan ahli ilmu.

Ya Imam Malik, kami belajar darimu bahwa yang paling berakal adalah yang paling baik adabnya saat menuntut ilmu.

Disarikan dari kitab Siyaru A’lamin Nubalaa’

Bekasi,
9 Safar 1439H

Norman Mulyadana
Kordinator Iman Kuttab Ummul Quro Indonesia

Follow kami untuk update info Kuttab Ummul Quro dan Pendidikan Nabawi.

Telagram : https://t.me/kuttabindonesia
Facebook : Kuttab Ummul Quro
Instagram : kuttabummulquro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *